Chapter 5: Ilmuwan
Tiap kali ada berita banjir bandang atau tanah longsor di Indonesia—kaya kasus banjir parah di Sumatera bulan November 2025 kemarin—timeline media…
- Written by
- Evan
- Published
- 11 Feb 2026
- Reading time
- 12 min
- Sections
- 05
Stop the war. I repeat, stop the war. Lot is at stake… — Joko Widodo, Presiden Ke-7 Indonesia
Es Kelapa Sawit
Tiap kali ada berita banjir bandang atau tanah longsor di Indonesia—kaya kasus banjir parah di Sumatera bulan November 2025 kemarin—timeline media sosial pasti langsung seragam. Semua orang mendadak jadi aktivis lingkungan. Gak cuma buzzer, banyak netizen yang bahas bahwa ini semua karena sawit, penebangan liar, dan penambangan liar.
Secara insting, enak banget emang nyari satu villain buat disalahin, kelapa sawit itu target operasi yang sempurna. Perusahaannya raksasa, lahannya luas, dan secara visual emang ngeri lihat hutan hijau berubah jadi gundul.
Tapi coba kita diam sebentar dan coba mikir ulang. Katakanlah besok pagi Pak Prabowo bangun dan bilang, "Oke, kita tutup semua kebun sawit di Indonesia. Kita ganti pakai minyak nabati lain yang lebih ramah lingkungan."
Pertanyaannya, ganti pakai apa? Minyak bunga matahari (sunflower oil)? Minyak kedelai (soybean oil)? Faktanya, kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak paling efisien di bumi saat ini. Buat ngasilin satu ton minyak, sawit butuh lahan jauh lebih sedikit dibanding tanaman lain. Kalau lo mau mengganti seluruh produksi minyak sawit global dengan minyak kedelai atau bunga matahari, lo butuh lahan 4 sampai 10 kali lipat lebih luas.
Artinya apa? Kalau kita boikot sawit secara buta dan pindah ke alternatif lain demi menyelamatkan lingkungan, kita justru berpotensi membabat hutan global berkali-kali lipat lebih luas buat menanam kedelai. Apakah itu scalable? Apakah itu sustainable?
Gua gak lagi bilang kalau industri sawit itu suci tanpa dosa. Jelas banyak praktik ilegal yang ngerusak ekosistem. Tapi poin gua adalah, dunia ini terlalu kompleks buat disederhanakan jadi
Sawit jahat, boikot sawit, masalah selesai.
Masalahnya, otak kita itu males. Nolak narasi populer dan mikir ulang itu butuh energi. Mengakui kalau masalahnya punya banyak layer yang gak gampang diselesaikan itu bikin kita ngerasa gak nyaman. Tapi di dunia nyata, kemampuan buat membongkar asumsi awal lo dan berani putar balik dari kesimpulan massa adalah skill yang membedakan pemikir medioker dengan problem solver sejati.
Gajah Dan Nabi
Sebelum kita bahas cara mikir ulang, kita harus paham dulu kenapa otak kita benci banget ngaku salah. Jonathan Haidt dalam bukunya The Righteous Mind punya analogi brilian soal ini. Dia ngebagi otak kita jadi dua bagian, yaitu Gajah dan Penunggangnya.
Gajah adalah intuisi, emosi, dan insting kita. Dia besar, kuat, dan bereaksi instan.
Penunggang adalah logika dan kemampuan penalaran kita. Dia kecil, rasional, tapi sebenernya cuma numpang di atas si Gajah.
Kebanyakan orang mikir kalau si Penunggang (logika) yang ngarahin si Gajah (emosi). Padahal realitanya kebalik. Gajah kita bergerak duluan ke arah yang dia suka, baru si Penunggang sibuk nyari alasan logis buat membenarkan arah si Gajah.
Milih calon presiden juga begitu. Coba lo inget sama siapa yang lo coblos di pemilu terakhir. Emangnya kalau ditanya, lo beneran paham ideologi capresnya? Ada yang tahu dan secara spesifik bisa jelasin ideologi, rancangan kebijakan strategis, dan detail program kerja Pak Prabowo, misalnya? Kalau jogetnya doang mah kita semua hafal.
Dasar kecintaan kebanyakan orang ke tokoh politik itu bukan logika, tapi kenabian dan fanatisme. Bahwa akan ada satu sosok suci, penyelamat umat manusia. Seorang mesias yang akan memimpin umat manusia dan membuat hidup di bumi jadi lebih indah. Gajah mereka udah kadung cinta sama personanya, jadi Penunggangnya tinggal nyari-nyari pembenaran dari secuil potongan video yang mereka tonton di TikTok. Hal ini makin diperparah dengan algoritma tiktok. Makin gak bisa keluar, deh. Tiap informasi yang dikonsumsi makin mengkonfirmasi kepercayaannya.
Tiga Profesi Berbahaya di Kepala Kita
Adam Grant dalam Think Again ngelanjutin ide ini. Waktu si Gajah merasa terancam, Penunggang di otak kita otomatis bakal masuk ke salah satu dari tiga mode profesi ini. Ini yang coba jelasin kenapa kadang orang yang pinter sekalipun bisa kelihatan tolol pas lagi debat. Coba ingat-ingat, lo sering jadi yang mana pas lagi diskusi bareng tim lo:
1. Pendakwah
Mode ini aktif waktu keyakinan kita lagi diancam. Lo bakal melindungi ide lo mati-matian layaknya lo lagi melindungi agama dan dewa lo. Kalau ada temen lo yang ngasih data yang bertentangan sama ide lo (kayak fakta efisiensi lahan sawit tadi), lo bakal tolak mentah-mentah. "Jadi maksud lo kita harus biarin aja deforestasi yang ada di Indonesia demi bakwan?" Lo udah buta sama fakta.
Apakah salah? Kalau tujuannya melindungi apa yang lo percayakan, ini terdengar masuk akal. Tapi kalau tujuannya adalah mencari kebenaran yang seutuhnya? Gak mungkin bisa dilakuin dengan tutup mata dan telinga.
2. Jaksa
Kalau Pendakwah sibuk melindungi ide sendiri, Jaksa sibuk nyari kelemahan ide orang lain. Lo berubah jadi orang paling kritis sedunia cuma buat ngebuktiin kalau temen lo salah. Lo cecar dia pakai logic dan data, bukan buat nyari solusi terbaik, tapi biar lo menang dan dia kelihatan bego.
Memang kadang kritis dan dan sinis garisnya tipis. Tapi kritis pun ada kegunaannya, buat nyari loophole misalnya. Mengakali suatu aturan untuk mendapatkan apa yang kita mau tanpa melanggar hukum kan juga butuh kemampuan berpikir dan kreatifitas yang tinggi.
3. Politikus
Kalau lo seorang politikus yang handal, lo gak peduli mana ide yang paling bener atau masuk akal. Lo cuma peduli ide mana yang bisa dapet banyak persetujuan. Lo sibuk cari muka ke juri atau ngambil hati audiens. Lo ngomong hal-hal manis yang pengen mereka denger, lepas dari apakah itu secara data valid atau nggak.
Main aman juga gak selamanya buruk. Berhadapan dengan klien misalnya, masa kita mau debat semua yang dia omongin di pertemuan pertama? Atau menjawab pertanyaan juri misalnya. Masa iya lo mau bilang dia buang-buang waktu lo karena nanya kenapa aplikasi lo temanya warnanya biru?
Masalah dari ketiga mode ini cuma satu: nggak ada yang peduli sama kebenaran. Pendakwah cuma mau idenya aman. Jaksa cuma mau menang. Politikus cuma mau disukai. Maka ambillah peran keempat: jadilan ilmuwan.
Jadilah Ilmuwan
Salah gak tiga peran di atas? Ya enggak. Semua punya porsinya masing-masing. Tapi pertanyaan selanjutnya, kira-kira peran tersebut bantu lo makin dekat atau menjauh dari kebenaran?
Gua gak bilang peran-peran tersebut harus dibuang. Pendakwah, Jaksa, dan Politikus punya perannya juga kok dalam diskusi kelompok. Tapi di sini gua mau nawarin alternatif cara berpikir yang lain.
Seorang ilmuwan nggak ngelihat ide sebagai bagian dari harga dirinya. Mereka ngelihat ide sebagai sebuah hipotesis. Kalau lo punya ide buat pakai strategi A di kasus lomba lo, itu bukan kebenaran absolut, itu cuma hipotesis yang harus dites.
Kalau ternyata setelah lo kumpulin data, hasilnya berlawanan sama ide awal lo, apa yang ilmuwan lakuin? Nangis? Nyalahin datanya? Gak. Mereka malah seneng, karena mereka baru aja nemuin fakta baru yang bikin mereka makin deket sama kebenaran. Mereka mikir ulang, dan ganti hipotesisnya.
Mikir selayaknya ilmuwan berarti lo punya kelenturan otak. Lo gak keberatan buat bilang, "Eh sorry, ternyata argumen gua kemarin salah. Setelah gua bedah pakai data baru, ternyata akar masalahnya bukan di A, tapi di B."
Percaya deh, ngomong kaya gitu nggak bikin lo kelihatan lemah. Itu justru bikin kredibilitas (Ethos) lo meroket di mata orang yang waras.
Ganti Baju Lo
Satu hal yang bikin orang susah banget buat putar balik adalah karena mereka mengikat identitas mereka pada opini mereka.
Kalau identitas lo adalah "Gua ini anak bisnis yang paling paham marketing", maka tiap kali ada yang ngritik strategi marketing lo, lo bakal ngerasa diserang secara personal. Lo ngerasa harga diri lo lagi diinjak-injak.
Ganti dasar dari identitas lo. Jangan definisikan diri lo dari apa yang lo percayai benar, tapi dari bagaimana cara lo mencari kebenaran. Jadikan identitas lo: "Gua adalah orang yang selalu mencari solusi paling masuk akal berbasis data." Dengan identitas ini, kalau ide lo terbukti salah, lo gak hancur. Lo malah bangga karena berhasil menjalankan identitas lo buat nyari yang bener.
Ide itu ibarat pakaian. Kalau udah kotor, robek, atau gak muat lagi… Ya tinggal diganti. Gua ngerti, kadang kita punya baju kesayangan, baju di mana kita kelihatan paling cantik. Tapi kalau gak pernah diganti, jorok juga kali.
Jangan ngerasa telanjang cuma karena ide lo dibuang.
Lebih Tipis Dari Rambut
Tapi, Bang, kalau kita kebanyakan mikir ulang dan ganti-ganti ide ntar malah keliatan plin-plan dan banyak salah dong?
Tahun 1990, NASA meluncurkan Teleskop Luar Angkasa Hubble. Proyek ini makan waktu bertahun-tahun. Biayanya tembus 1,5 miliar dollar (25,5 Triliun), kira-kira 21 hari proyek MBG (gua ngerti kesannya bentar, tapi ini karena proyek MBG yang kemahalan 😭). Semua orang nungguin foto pertama dari ujung tata surya. Pas fotonya akhirnya dikirim ke bumi, hasilnya… Burem. Gambarnya gak bisa fokus.
Lihat gambar di bawah. Gambar yang kiri adalah foto yang ditangkap Teleskop Hubble. Gambar yang kanan adalah referensi bagaimana fotonya harusnya terlihat.
NASA panik. Setelah diselidiki, ternyata masalahnya ada di cermin utama teleskopnya. Cermin itu diamplas dengan kesalahan bentuk sebesar 2.2 mikrometer. Buat konteks, rambut manusia itu tebalnya sekitar 75 mikrometer. Kesalahannya jauh lebih tipis dari rambut. Jembatan Shiratal Mustaqim, kah?
Kesalahan sepersekian tebal rambut itu bikin proyek miliaran dolar gagal fungsi di luar angkasa. Untuk standar NASA, kesalahan ini sebeneranya 10 kali lebih besar dari toleransi eror mereka. Margin eror NASA itu lebih tipis dari kesabaran Dokter Tirta. Mereka akhirnya harus ngirim astronot 3 tahun kemudian cuma buat masang semacam kacamata ke teleskop itu biar fokus lagi.
Sekarang coba bandingin sama kondisi lo. Lo bukan ilmuwan NASA, apalagi ilmuwan NASIHUY. Lo lagi ngerjain proposal lomba business case, atau bikin desain prototype UI/UX, atau lagi nyusun argumen buat presentasi kampus.
Margin eror lo itu bisa dibilang infinite.
Gak ada nyawa umat manusia yang hilang kalau lo salah hitung CAC (Customer Acquisition Cost). Gak ada anak SD kelaparan kalau button di aplikasi rancangan lo warnanya jelek. Nasib dunia gak ada di tangan lo.
Lalu kenapa lo harus takut banget buat salah? Kenapa lo ngotot pertahanin satu ide seakan-akan hidup lo bergantung di situ? Justru karena taruhannya masih rendah, ini adalah momen paling berharga buat lo bikin kesalahan sebanyak-banyaknya. Uji ide-ide gila lo. Tes hipotesis yang gak masuk akal. Kalau gagal? Ya udah, ketawa aja, bongkar lagi, perbaiki, dan melangkah maju.
Orang yang takut gagal di level lomba atau kuliah biasanya adalah orang yang egonya kegedean. Mereka takut kelihatan bodoh di depan temen-temennya. Padahal, berani salah, ngakuin kesalahan, dan belajar dari situ adalah privilege yang cuma lo punya sebelum lo masuk ke dunia profesional yang resikonya beneran duit dan karir.
Waktu gua kuliah, gua terlalu takut buat gagal sampai gak berani banyak coba. Jangan sampai kesalahan ini nurun ke lo.
Cara Mengaplikasikan Fleksibilitas Otak di Tim Lo
Buat nutup materi ini, gua kasih tiga langkah praktis yang bisa langsung lo pake pas lagi brainstorming bareng tim lo. Gua kasih beberapa hal yang bisa dilakuin sebelum proses development, sesudah development, dan post mortem.
1. Bunuh Anak Emas Lo
Maksudnya, lo gak boleh jatuh cinta terlalu dalam sama ide pertama lo. Pas ide kelompok udah jadi, jangan langsung dibungkus jadi pitch deck. Taruh ide itu di meja, lalu tantang diri kalian sendiri: "Gimana caranya ide ini bisa gagal total di dunia nyata?" Kalau lo bisa nemuin jawabannya, berarti ide lo belum matang.
Tapi jangan juga malah kasih ilusi pilihan. Lo nyajiin gua tiga ide: anak emas lo, ide A yang sengaja dibuat jelek, ide B yang sengaja dibuat jelek. Seakan-akan giring gua biar setuju sama ide anak emas lo. Gua juga pernah jadi mahasiswa.
2. Devil’s Advocate
Kalau lo lagi bikin proposal atau ngerancang produk, tunjuk satu orang di kelompok lo buat jadi Devil’s Advocate (DA). Tugas dia cuma satu, yaitu menghancurkan argumen tim pakai logika dan data yang valid. Dia bukan lagi nyinyir, dia lagi menguji ketahanan kapal kalian sebelum beneran berlayar. Kalau kapal lo bocor pas diserang DA, mending lo tambal sekarang daripada tenggelam di depan juri.
3. Black Box
Di dunia penerbangan, kalau ada pesawat jatuh, mereka gak sibuk nyari kambing hitam terlebih dahulu. Mereka nyari Kotak Hitam (Black Box), dengerin rekaman, lihat data, dan nyari titik erornya biar gak keulang lagi. Kalau ide lo dibantai juri atau lo kalah lomba, buka Kotak Hitam tim lo. Evaluasi jujur-jujuran. Kesalahan apa yang kita buat? Di bagian mana asumsi kita ngawur?
Latihan: 3 Hot Take
Tugas kali ini bakal buktiin kemampuan lo buat bujuk orang lain. Tugasnya simpel, buat setidaknya 3 hot take (pendapat yang nggak populer atau kontroversial). Bisa soal teknologi , isu sosial, manusia, atau bahkan hal receh di sekitar lo.
Hot take yang dipilih pun juga gak wajib serius kok, lo bisa mulai dari dunia yang dekat dengan lo aja dulu, contoh:
- One Piece jelek
- Tukang parkir liar itu dibutuhkan
- Perdebatan soal ijazah asli atau palsu itu penting
- Binus kampus bagus
Misi utama lo cuma satu: Bujuk gue buat setuju sama pendapat lo.
Kenapa 3?
Kita harus mastiin lo dan gua familiar terhadap bidang ini supaya percakapannya jalan. Saat sesi, lo bakal kasih tahu gua tiga opsi yang udah lo buat. Nanti gua bakal coba milih yang familiar dengan gua. Kalau gak ada, ya gua bakal tetep milih yang paling menarik menurut gua.
Sistematika Latihan
Detail tahap-tahap tugasnya:
Persiapan
Setelah punya 3 hot take, lo siapin narasi yang lo mau bawa ke gua. Presentasinya nanti bebas mau pakai PPT, coret-coretan sketsa, atau bahkan cuma modal ngomong langsung. Inget, medianya nggak penting, yang penting adalah argumennya.