BahteraEvan
All materialsBahtera Menuju Kiamat

Chapter 4: Pisau

Pernah gak ketemu orang pinter—dosen lo misalnya—jelasin sesuatu yang kompleks? Setelah setidaknya kuliah dua kali, gak mungkin lah orang ini gak…

LogikaKomunikasi
Written by
Evan
Published
13 Feb 2026
Reading time
41 min
Sections
08
On this page
  1. 01Nggak Dengar atau Tempe (Nggak Tahu)?
  2. 02Penjelasan Paling Singkat
  3. 03To Be Loved Is to Be Understood
  4. 04Pisau Bedah
  5. 05Framework
  6. 06Kesimpulan: Bawa Banyak Pisau Tajam ke Ruang Operasi
  7. 07Post Test
  8. 08Epilog: What Is Dead May Never Die

The ability to simplify means to eliminate the unnecessary so that the necessary may speak. — Hans Hoffman, Pelukis abstrak

Nggak Dengar atau Tempe (Nggak Tahu)?

Pernah gak ketemu orang pinter—dosen lo misalnya—jelasin sesuatu yang kompleks? Setelah setidaknya kuliah dua kali, gak mungkin lah orang ini gak paham dengan apa yang dia omongin, dong. Tapi kenapa gak jarang kita malah sulit memahami apa yang dia omongin? Atau mungkin temen lo cerita soal sesuatu yang dia suka banget kaya sejarah Nasi Cumi Hitam Madura Pak Kris, tapi reaksi kita dan orang-orang yang denger malah kaya orang lagi nyicil ketawa?

Hah? Hah? Hah? Maksudnya gimana tadi?

Apakah benar masalahnya berada di pemahaman dia terhadap materi tersebut? Atau pada kegagalan cara dia menyampaikan informasinya? Atau jangan-jangan kita memang gak paham karena materi yang dijelaskan memang sifatnya kompleks? Lalu gimana caranya supaya kita bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, tapi orang lain tetap paham?

Lo pasti pernah denger istilah “explain in football terms,” atau, “penjelasan pakai bahasa bayi.” Sebuah konsep di mana seseorang mencoba jelasin sesuatu yang rumit dengan bahasa dan penjelasan yang sederhana, sampai-sampai bayi aja bisa paham. Apakah cara tersebut berguna? Jelas. Tapi cara tersebut punya resiko bahwa lo harus menyeimbangkan kebutuhan menjelaskan sesuatu tanpa kerumitan (complication), tapi gak terlalu menyederhanakan (oversimplifying)

Everything should be made as simple as possible, but not simpler — Albert Einstein


Penjelasan Paling Singkat

Dalam bukunya David Sumpter yang berjudul, “Four Ways of Thinking: Statistical, Interactive, Chaotic and Complex,” gua jadi kenal sama istilah Kolmogorov Complexity/Algorithmic Complexity yang dipopulerkan oleh Andrey Kolmogorov pada tahun 1960-an (penjelasan aslinya bahas soal matematika sih, spesifiknya kompleksitas pattern). Singkatnya, Kolomogorov bilang: sesuatu itu dapat dikategorikan kompleks atau gak tergantung dari seberapa pendek lo bisa buat deskripsi akurat dari hal tersebut. Bingung? Gua coba kasih contohnya sedikit dengan cara paling pendek menjelaskan konsep “sungai,” dan “Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)”:

Menjelaskan Sungai

Cara paling pendek yang akurat buat jelasin konsep sungai:

Air mengalir dari tempat tinggi ke rendah karena gravitasi, mengikuti bentuk permukaan tanah.

Cukup mudah dipahami bahkan hanya dalam sekali baca. Ilmu paling minimum untuk memahami konsep tersebut hanyalah gravitasi dan kontur. Mungkin kita gak bisa secara akurat menjelaskan apa itu gravitasi dan kontur, tapi seenggaknya lo pasti punya gambaran tentang dua hal tersebut, sehingga bisa memahami konsep sungai dengan mudah.

Mengubah penjelasan sungai menjadi lebih sederhana seperti:

Tempat air ngalir.

Justru malah membuat penjelasannya gak akurat lagi. Karena dengan deskripsi tersebut, pipa dan sedotan juga termasuk sungai, dong?

Menjelaskan PLTN

Lalu bagaimana dengan PLTN? Coba kita jelasin PLTN dengan deskripsi paling singkat yang akurat, ya:

Energi listrik dihasilkan dari reaksi fisi nuklir berantai yang dikontrol menggunakan batang kendali untuk mengatur jumlah neutron, panas yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan air menjadi uap, uap memutar turbin, turbin menggerakkan generator, dan seluruh proses dijaga oleh sistem pendingin serta mekanisme keselamatan agar reaksi tetap stabil dan tidak berbahaya.

Nah loh, bisa ngerti gak dengan sekali baca? Neutron tuh apa? Turbin tuh apa? Kenapa reaksi fisi nuklir harus dijaga tetap stabil? Reaksi fisi tuh apa? Emang bahayanya apa kalau gak stabil?

Meski kelihatan rumit, secara faktual penjelasannya udah benar. Memang konsep PLTN jauh lebih kompleks daripada sungai. Bisa gak lo paham apa itu PLTN lewat penjelasan yang sudah dibuat sesingkat mungkin itu? Tentu bisa—kalau lo punya prior knowledge terhadap hal-hal yang dibahas di situ. Membuat penjelasannya jadi lebih sederhana justru malah datang dengan risiko bahwa penjelasannya jadi tidak akurat. Saat kita mencoba mendeskripsikan PLTN dengan lebih sederhana, ketidaktepatannya berpotensi naik:

Ada ledakan ‘boom boom boom’, air jadi panas, ada yang muter, jadi listrik bzzz lampu nyala.

Bener banget kalimat tersebut merupakan sebuah penjelasan, deskripsinya juga sangat singkat—tapi gak akurat. Pakai frasa “ledakan ‘boom boom boom’,” jelas bakal buat orang yang baca bayangin ledakan kaya bom, padahal bukan itu mekanisme PLTN. Penjelasannya gak deskripsiin soal reaksi berantai, kontrol, atau kestabilan. Sudah jelas penjelasan tersebut sesat dan gak berguna.

Deskripsi pendek tidak otomatis menurunkan kompleksitas kalau dia mengorbankan akurasi.

Penjelasan Paling Panjang

Salah satu kesalahan lain yang kadang dilakukan adalah membuat hal yang sebenernya simpel malah jadi rumit. Sebelumnya, konsep “sungai” dapat dijelaskan dengan mudah:

Air mengalir dari tempat tinggi ke rendah karena gravitasi, mengikuti bentuk permukaan tanah.

Pendek, akurat, cukup.

Mengubah penjelasannya jadi panjang justru malah mengundang bingung ketimbang paham:

Aliran fluida dalam sistem hidrologi alami merupakan manifestasi dari interaksi multidimensional antara gradien potensial energi gravitasi, dinamika tekanan hidrostatik, serta konfigurasi morfologi topografi yang memengaruhi distribusi vektor kecepatan partikel air dalam ruang tiga dimensi.

Penjelasannya malah jadi muter-muter tanpa arah, menggunakan terminologi yang rumit, dan malah tujuan awal, “ngebuat orang jadi paham,” berakhir “ngebuat orang jadi bingung.” Pada akhirnya, menyeimbangkan kebutuhan akurasi dan kesederhanaan merupakan seni yang harus dipelajari, DAN dilatih. Kalau kita hanya fokus pada akurasi, tapi gak punya kerendahan hati untuk membuatnya sederhana dan dipahami oleh orang lain, di situ kebingungan mulai hadir. Dan hal ini yang selalu gua coba latih dan praktekin. Itulah kenapa gua bukan hanya mengizinkan, tapi mendorong kalian buat selalu kasih feedback ke gua, baik positif mau pun negatif, supaya kita berdua sama-sama paham dan sampai.


Perfectly Balanced

Secara prinsip, lo harus fokus perjuangin logika yang valid dan masuk akal terlebih dulu sebelum fokus bisa menjelaskan sesuatu agar bisa dipahami. Karena audiens yang kuat akan tetap bisa memahami penjelasan lu yang kacau, tapi pemahaman yang kacau… Bahkan orang cerdas dengan ijazah asli sekali pun bakal kesulitan buat memahami lo.

Akurat > Sederhana

Pada chapter-chapter sebelumnya, kita sudah mempelajari tentang:

  1. Memahami esai dan logika di belakangnya

    → Memahami isi dan struktur berpikir sebuah esai untuk berargumentasi

  2. Peta realitas

    → Menentukan definisi sukses dan parameter yang memengaruhinya

  3. Rhetorical appeal

    → Logos, Pathos, Ethos untuk membuat argumen meyakinkan

  4. Memahami data

    → Lihat tren, kompetitor, dan tujuan (goal)

    → Pakai data dengan tujuan jelas, bukan asal ambil

  5. Top down communication

    → Mulai dari kesimpulan, baru jelasin detail

Chapter 1 dan Chapter 3 berfokus pada fondasi cara berpikir, sementara Chapter 2 membahas tentang prinsip dasar berkomunikasi. Gua menulis materi-materi tersebut dengan harapan lo mendapatkan fondasi paling dasar dalam berpikir kritis.

Pada Chapter 4 kali ini, gua bakal coba menyentuh ilmu praktis yang dapat membantu kita menjadi lebih mudah dipahami. Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk memastikan penjelasan kita sederhana namun akurat? Kiat-kiat apa yang bisa dilakukan untuk membuat sesuatu menjadi akurat? Selanjutnya, bagaimana caranya kita membuat sesuatu yang akurat dan lengkap tersebut jadi dapat dikonsumsi dengan mudah oleh lawan bicara kita?


To Be Loved Is to Be Understood

Jadi apa syarat-syarat dasar untuk dapat dipahami?

Kita bisa dengan percaya diri bilang bahwa Pak Prabowo dan Seskab Teddy sama-sama mencintai Indonesia, karena seluruh tindakan cintanya menunjukkan bahwa mereka memahami betul apa yang Indonesia butuhkan.

Peramal dan Penalar

Pada pembahasan sebelumnya soal sungai dan PLTN, gua ngebahas soal prior knowledge yang harus dimiliki seseorang untuk memahami sesuatu dengan mudah. Lo bisa memahami sesuatu dengan mudah kalau:

  1. Penjelasannya dibuat sesimpel mungkin tanpa mengorbankan akurasi, atau
  2. Lo punya prior knowledge buat memahami sesuatu tanpa memerlukan penjelasan yang disederhanakan

Otak kita secara evolusi memang bekerja dengan mengenali pola, itulah kenapa beberapa hal bisa terlihat sangat obvious buat kita tanpa harus melakukan penalaran yang panjang. Gak susah buat lo memahami kalau ada sesuatu yang warnanya hitam dan putih, bau, dan terlihat kaya tai, maka jangan dimakan. Lo gak butuh framework untuk memahami hal tersebut. Tapi coba liat itu dari sudut pandang adek lo yang umur 2 tahun yang lagi mungutin tai cicak dan coba masukkin itu ke mulutnya. Dianya mah bodo amat, orang gak tahu itu bahaya apa gak, ya sikat aje, kali aja enak, lezat, dan bergizi.

Tapi hal itu gak cuma berlaku buat makan tai cicak. Hal ini berlaku juga dalam skenario hipotesis di mana lo mau jelasin ke temen lo buat jangan deketin Mira, cewek angkatan bawah, dengan rambut pendek warna biru, dan tato salt bread di lengan kanannya. Mungkin terdengar obvious buat lo karena lo punya data—entah dari pengalaman pribadi, atau pengalaman temen lo—untuk jangan deketin Mira. Tapi buat temen lo yang gak pernah deketin cewek rambut pendek biru dan bertato? Dianya mah bodo amat, orang gak tahu itu bahaya apa gak, ya sikat aje, kali aja enak, lezat, dan bergizi.

Pernyataan lo untuk ngelakuin atau gak melakuin sesuatu bisa dianggap sebuah ramalan yang logis atau mistis dengan melihat satu faktor. Perbedaan ramalan yang sifatnya forecasting dengan ramalan yang sifatnya divination (yang berbau mistis), adalah alasan yang back up pernyataannya.

Kalau lo bilang bahwa Spanyol tahun ini bakal menang piala dunia karena mimpi semalem, itu lo jadi tukang ramalan gaib.

Tapi kalau lo bilang Spanyol punya peluang besar untuk menang di piala dunia tahun ini karena karena mereka punya kombinasi pemain muda yang lagi gacor-gacornya dan pemain senior yang berpengalaman, performa tim yang konsisten di level liga klub dan turnamen, kedalaman skuad yang kuat di setiap lini, serta statistik penguasaan bola dan konversi peluang yang tinggi—itu namanya forecasting, bukan divination.

Forecasting membutuhkan penyampaian argumen, bisa berupa data kualitatif atau kuantitatif. Sedangkan ramalan mistis hanya berupa claim. Forecasting memahami betul keterbatasan pernyataannya, itulah kenapa dalam contoh Spanyol, gua bilang bahwa “Spanyol punya peluang besar untuk menang di piala dunia tahun ini,” bukan “Spanyol pasti menang.”

Sementara ramalan atau tahayul? Alasannya saja tidak jelas, apalagi akurasinya. Kalau memang kepercayaan nyapu gak bersih bisa bikin perempuan dapat suami yang brewokan, orang bakal berlomba-lomba nyapu berantakan supaya dapat suami kaya Chris Hemsworth.

Jadi gimana caranya kita bisa sampai ke kesimpulan kalau Spanyol punya peluang yang tinggi atau rendah dalam memenangkan piala dunia? Bagaimana kita bisa menemukan bahwa komposisi tim, performa, kedalaman skuad, penguasaan bola, dan konversi peluang, merupakan faktor-faktor penentu yang masuk akal?

Jawabannya adalah dengan membedah masalahnya, dengan pisau bedah yang tepat.

Pisau Bedah René Descartes

Dalam bukunya yang berjudul “Discourse on the Method ” (1637), Descartes menjelaskan tentang panduan rasional untuk mencari kepastian pengetahuan. Ia menjelaskan tentang 4 aturan-aturan yang merupakan sebuah framework untuk memperoleh/acquiring pengetahuan dengan cara membedah masalahnya menjadi bagian-bagian kecil, agar mudah dipahami. Aturan-aturannya sederhana, tapi kalau dipakai dengan benar, bisa ngubah cara kita memahami dan menjelaskan sesuatu secara drastis.

1. Jangan langsung percaya

Ada satu malam di tahun 1983, di tengah tegangnya perang dingin, seorang perwira Soviet bernama Stanislav Petrov duduk di depan layar sistem peringatan nuklir. Malam itu seharusnya biasa aja, sampai akhirnya sistemnya bunyi, kasih peringatan darurat: Amerika terdeteksi meluncurkan misil nuklir. Dalam sistem militer, momen seperti ini bukan ruang untuk interpretasi. Prosedurnya jelas, setelah terima informasi, laporkan, dan biarkan keputusan berikutnya berjalan. Jangan kelamaan mikir dan malah bikin rantai informasi dan perintahnya jadi berantakan gara-gara lo.

Tapi justru di titik itu, Petrov melakukan sesuatu yang berlawanan dengan insting sistem: dia gak langsung percaya. Dia diam sebentar. Bukan panik, tapi nahan diri untuk gak buru-buru menyimpulkan. Dia coba perhatiin baik-baik dan ngerasa ada yang janggal. Jumlah misilnya terlalu sedikit untuk ukuran serangan pembuka.

Petrov memutuskan untuk coba cek ulang, ternyata sistemnya memang keliru membaca pantulan cahaya matahari sebagai peluncuran misil. Bayangin kalau dia tergesa-gesa buat menyimpulkan bahwa negara mereka diserang. Bayangin kalau komandannya juga tergesa-gesa buat percaya dan bales nyerang. Kemungkinan besar kita gak bakal ada nih di sini, gak bisa nikmatin MBG, dan sudah jelas gak bakal tahu ending drama ijazah palsu itu bakal gimana.

2. Memecah masalah jadi bagian-bagian kecil

Untuk memahami suatu hal, coba pecah jadi bagian-bagian yang kecil, sehingga proses pemahaman atau pengambilan keputusannya jadi lebih mudah. Maksudnya gimana? Coba gua kasih contoh dalam konteks pengambilan keputusan. Bayangin tahun depan lo udah harus magang, dan lo bingung harus apply ke mana? Harus siapin apa? Cara paling makan waktu adalah browsing gak jelas, lihat profil perusahaan satu-satu, sambil nanya dalam batin, “Gua mau masuk ke sini apa gak, ya?” Kelamaan!

Coba lo tentuin dulu faktor-faktor apa yang bakal jadi pertimbangan lo, pilih 3-5 faktor yang paling dominan dulu aja biar gampang. Misalnya lo mau tempat yang: kerjanya jadi QA Tester, di Jakarta, gaji >Rp3.000.000, perusahaannya udah PT, gak berhubungan dengan pemerintah. Dengan coba mikir kaya gini, lo udah coba mengeleminasi banyak pilihan.

Selanjutnya yang harus lo tanyakan adalah, kira-kira perusahan yang memenuhi kriteria gua ini pada nyari anak magang yang kaya gimana? Coba pilih 3-5 perusahaan top yang lo incer, mereka punya resources tentang ini gak? Pernah posting sesuatu yang bahas soal kriteria magang gak? Kalau gak ada, tenang, ada recana cadangan. Pertanyaan yang harus lo tanya selanjutnya adalah, gimana ya gua bisa tahu kualitas orang-orang yang keterima magang di sana? LinkedIn. Coba aja lo kepo-in satu-satu, rata-rata kualifikasinya pada gimana? IPK berapa? Aktif apa? Bahkan lo bisa ajak connect dan tanya langsung.

Kalau lo maksa proses ngambil keputusan dengan mempertimbangkan semua pilihan, yang ada keburu perang nuklir. Kalau masalahnya adalah terlalu banyak pilihan, maka cara menyelesaikannya yang paling masuk akal adalah dengan mengeleminasi banyak pilihan dengan cepat. Kalau masalahnya adalah terlalu besar dan banyak pertimbangannya, maka pecah masalahnya, dan buat keputusan-keputusan kecil terlebih dahulu.

3. Mulai dari yang paling sederhana dulu

Gua ngerasa sebenernya aturan ini agak menjebak kalau kita terima mentah-mentah. Menggunakan analogi kalau kita ikut lomba business case competition, berarti kita harus fokus ngerjain desain pitch deck dan dress code buat presentasi final dulu. Tapi kalau lo ngerjain itu dulu padahal isinya aja belum ada, ya buat apa? Kan malah jadi salah prioritas. Memang benar lo bisa nyicil desain pitch deck selagi sesi diskusi. Tapi bukan berarti lo malah ninggalin yang yang prioritasnya lebih mendesak.

Maka poin dari aturan ini adalah:

Penting > Sederhana > Kompleks

Kalau lagi ikut lomba business case, gak usah pusing pikirin gimmick marketing yang bakal lo lakuin. Lah orang masalahnya apa dan solusi yang ingin dibangun belum ada, ngapain udah pusing soal gimmick, kerjain dulu yang paling penting. Kalau lo udah berhasil menentukan mana yang merupakan P0 (prioritas paling utama), lo sortir aja deh kerjaan hari ini yang wajib selesai paling awal, mana yang paling simpel dan cepat dilakuin? Nah itu lo sikat duluan.

Jadi aturan ketiga ini simpelnya adalah buat skala prioritas yang bener, jangan ngawur, dan jangan terobsesi dengan kerumitan. Gua ngerti ngerjain hal-hal yang rumit di awal sering kali ngasih perasaan puas, tapi kalau yang rumitnya gak penting, ya buat apa.

Mungkin analogi lainnya yang lebih sehari-hari: gak usah mikirin lo nikahnya mau di mana dan mau ngundang siapa aja, kalau pacarnya aja belum ada. Ya lo mulai dulu aja dari basa-basi ke dia, lebih suka Teazzi atau Chagee? Kalau dia jawab Teazzi kan lo jadi gak perlu pusing mau nikah di mana atau ngundang siapa, selera dia jelek, you deserve better.

4. Cek ulang

Cukup jelas. Setelah semuanya lo sikat habis, coba cek ulang, ada yang kelewat, gak? Proses ngecek ulang ini bukan hanya dilakuin sekali di akhir sebuah proses penalaran, tapi secara rutin dilakukan untuk memastikan gak ada bagian penting yang terlewat. Sederhana, tapi sering dilewatin.

Empat aturan ini bukan aturan saklek, tapi sebuah prinsip berpikir. Lo bakal kesulitan untuk membedah sesuatu dari kompleks jadi akurat dan sederhana kalau CUMA pakai pisau bedah ini. Gak mustahil sih, tapi sulit. Sama seperti seorang dokter yang melakukan operasi, ada banyak jenis dan model pisau bedah yang dipakai. Makin banyak pilihan pisau lo, dan makin jago lo gunain pisaunya, maka proses bedahnya bakal jadi lebih mudah.

Pisau Bedah

Bayangin ada dokter yang bedah perut lo, terus lo denger dia ngomong, “Eh?! Habis ini diapain, ya?” Pasti absurd, dong? Seorang dokter yang ahli pasti harus tahu dulu kenapa dia harus operasi pasiennya, prosedurnya bakal kaya gimana, harus ngapain aja, dan gak mungkin baru mikir itu di tengah proses operasi. Membedah sebuah masalah juga harus begitu.

Bayangin kalau lo lagi ikut lomba business case, analisis kasusnya pakai 10 framework populer. Di tengah-tengah lo lagi buat analisis Porter's Five Forces, lo baru nyadar kalau lo bingung, “Ini kita pakai framework Porter’s Five Forces tujuannya apa? Cara analisisnya gimana? Outputnya apa?” Aneh, kan? Sama anehnya dengan dokter kucing di atas.

Selayaknya seorang dokter membedah pasiennya, seorang problem solver juga harus punya rencana matang dalam membedah sebuah masalah.

Kita bisa menganalogikan framework yang kita pakai sebagai jenis pisau bedah. Meski tujuannya sama-sama memotong—bentuk, cara menggunakan, dan tujuan dari masing-masing pisau bedah berbeda. Framework juga sama. Semakin banyak pilihan pisau bedah yang dimiliki, dan semakin handal lo menggunakannya, maka proses bedah masalah juga bakal jadi lebih mudah.

Oke, kita udah paham analogi kenapa kita harus menguasai banyak framework dan tujuannya untuk memecahkan sebuah masalah. Tapi framework tuh sebenernya apa?

Apa Itu Framework?

Sebelum mikir tentang framework apa yang harus dipakai, kita harus tahu apa itu framework sebenernya, dan kenapa cara kita membagi masalah bisa jadi penentu antara clarity dan chaos.

Banyak orang mikir framework adalah rumus sakti buat menyelesaikan suatu masalah. Mau ikut lomba UI UX? Pakai framework Design Thinking. Mau analisis kelebihan dan kekurangan sebuah bisnis? Pakai framework SWOT. Seakan-akan dengan mengikuti framework tersebut, maka hasilnya dijamin bakal bagus. Apa iya?

Simpelnya, framework adalah cara untuk memecah sebuah pertanyaan besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan bisa dianalisis. Familiar? Persis kaya aturan kedua Descartes.

Framework bukan sebuah jawaban, tapi struktur yang membantu kita sampai ke jawaban. Tanpa framework, kita tetap bisa berpikir, ini jelas. Tapi kalau gak disiplin, mikirnya bakal loncat-loncat, mulai dari satu ide, pindah ke ide lain, lalu balik lagi tanpa arah yang jelas. Framework memberi kita jalur, memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil masih berada dalam satu struktur yang utuh.

Analoginya, framework ini kaya sebuah peta. Anggap lo lagi Universal Studio Florida. Lo adalah seorang Potterhead (penggemar Harry Potter), dan cuma mau ke wahana yang berurusan dengan Harry Potter.

Kalau megang peta ini, lo bakal langsung tahu tujuan lo cukup perlu mengarah ke Utara. Bisa gak lo sampai ke sana tanpa megang peta ini? Ya bisa, tapi lama. Harus ngikutin bau-bau penyihir. Mantau orang-orang yang megang tongkat sihir pada di mana. Kelamaan.

Dan sama seperti menggunakan peta, saat lo berangkat dari pintu gerbang, lo gak mesti ngunjungin semua wahana yang ada buat sampai ke wahana Harry Potter. Framework juga gitu. Ambil contoh misalnya Profit = Revenue - Cost. Kalau data lo menunjukkan gak ada masalah di revenue, ya gak perlu ditelusuri. Kalau hipotesis lo dan datanya nunjukkin masalahnya ada di Cost, ya fokus aja ke Cost. Nah Profit = Revenue - Cost tuh ngebantu kita aja buat tahu kalau masalahnya ada di Profit, maka kita mulai cari apakah ada masalah di Revenue atau Cost.

Tapi gak semua template bisa dianggap framework yang layak. Framework itu bantu kita memecah masalah jadi bagian yang lebih kecil, sayangnya gak semua template itu membaginya dengan tepat. Kalau cara membaginya aja udah salah, yang ada cetakannya malah bikin tambah bingung.

Di sinilah konsep MECE (baca: missy) jadi penting.

MECE adalah singkatan dari Mutually Exclusive dan Collectively Exhaustive, mudahnya:

  • Tidak saling tumpang tindih
  • Dan tidak ada yang terlewat

Kalau kita membagi sebuah masalah dengan benar, setiap bagian harus berdiri sendiri tanpa overlap, tapi kalau digabung, semuanya harus mencakup seluruh kemungkinan yang ada. Gua coba jelasin kedua konsepnya dengan contoh:

Mutually Exclusive

Bayangkan kita lagi mencoba memahami “Jenis-jenis mahasiswa itu apa aja?” Lalu kita bentuk kelompok-kelompoknya jadi:

  • Mahasiswa yang suka olahraga
  • Mahasiswa yang suka musik
  • Mahasiswa yang suka nongkrong

Masalah pertamanya langsung kelihatan: satu orang bisa masuk ke lebih dari satu kategori. Seseorang bisa suka olahraga dan musik di saat yang sama. Bahkan bisa juga nongkrong sambil bahas musik atau setelah olahraga.

Ini melanggar prinsip dasar mutually exclusive, di mana satu item seharusnya hanya bisa masuk ke satu kategori aja.

Collectively Exhaustive

Masalah kedua lebih halus, tapi lebih berbahaya. Bagaimana dengan mahasiswa yang:

  • Tidak terlalu suka olahraga
  • Tidak suka musik
  • Jarang nongkrong

Dia masuk ke kategori mana? Gak ada. Artinya, pembagian ini juga gagal menjadi collectively exhaustive, karena tidak mencakup seluruh kemungkinan yang ada

MECE

Jadi contoh yang benar gimana, dong? Kita butuh cara membagi yang setiap orang hanya masuk ke satu kategori, dan tidak ada yang tertinggal.

Misalnya, kita ubah sudut pandangnya. Daripada berdasarkan hobi, kita bagi berdasarkan umur:

  • 0–18 tahun
  • 19–35 tahun
  • 36–60 tahun
  • 60+ tahun

Sekarang gak bakal ada mahasiswa yang terlewat. Seseorang gak mungkin berumur 12 tahun dan 21 tahun secara bersamaan. Kecuali lo pe…

Kita lanjut aja.

Tapi apa ini doang satu-satunya cara untuk membagi kelompok mahasiswanya? Kalau dari semester gimana? Kita bisa juga mengelompokkan mahasiswa berdasarkan semester aktif terakhirnya:

  • Semester 1
  • Semester 2
  • Semester 3
  • Dan seterusnya…

Loh, ternyata membagi berdasarkan semester juga MECE. Gak mungkin ada mahasiswa yang status semesternya jamak. Jadi pembagian mana yang benar? Kita harus pakai yang mana?

Jawabannya: “Tergantung.”

Tergantung dari tujuan kita membagi jenis-jenis mahasiswa ini apa? Kalau tujuannya adalah memahami perilaku belajar, membagi berdasarkan semester mungkin lebih masuk akal. Mahasiswa semester awal biasanya masih adaptasi, sementara semester akhir sudah mulai fokus ke skripsi atau karier.

Tapi kalau tujuannya adalah memahami daya beli atau kebutuhan finansial, umur bisa jadi lebih relevan (ini lo jangan mikir mahasiswa tuh S1 doang ya, kan yang S2 dan S3 juga mahasiswa). Mahasiswa yang lebih tua mungkin sudah punya penghasilan sendiri, sementara yang lebih muda masih bergantung pada orang tua.

Di titik ini kelihatan sesuatu yang penting:

Framework itu bukan HANYA soal pembagiannya MECE atau gak, tapi apakah pembagian itu relevan dengan pertanyaan yang ingin kita jawab.

Orang yang terbiasa dengan satu framework sering kali menggunakannya untuk semua masalah. Seolah-olah semua pertanyaan bisa dijawab dengan cara yang sama. Ini yang sering disebut sebagai “hammer problem”. Ketika satu-satunya alat yang kita punya adalah palu, semua masalah terlihat seperti paku.

Padahal, setiap framework dibuat untuk menjawab jenis pertanyaan tertentu. Menggunakannya di konteks yang salah justru lebih bahaya dibandingkan gak gunain sama sekali.


Framework

Secara umum, ada 3 tipe cara untuk memecahkan masalah dalam konteks framework. Pengelompokan ini bakal ngebantu kita untuk mengetahui fungsi dan batasan masing-masing tipe. Perlu dihafalin gak tipenya? Gak. Kalau lo udah paham definisi dan contoh dari masing-masing tipenya, lo gak bakal kesusahan buat tahu sebuah framework masuk dalam kategori yang mana.

Industry framework

Cara pertama adalah menggunakan industry frameworks. Ini adalah cara berpikir yang lahir dari bagaimana suatu industri benar-benar bekerja, dari pengalaman spesifik pemakainya. Dalam retail, misalnya, pertumbuhan gak hanya dilihat dari revenue dan cost, tetapi dari performa toko yang sudah ada dan ekspansi toko baru.

Functional framework

Cara kedua adalah menggunakan functional frameworks. Ini adalah framework yang datang dari disiplin ilmu seperti marketing, finance, atau strategy. Ketika kita gak terlalu memahami industrinya, framework ini menjadi titik awal yang aman. Kita bisa memecah revenue menjadi jumlah pelanggan, frekuensi pembelian, dan nilai per transaksi. Gak sempurna, tapi cukup kuat untuk mulai berpikir.

Logika mentah

Cara ketiga adalah menggunakan logika murni. Ini adalah jalan terakhir ketika gak ada framework yang bisa digunakan. Kita membagi masalah dengan cara yang paling sederhana: lama vs baru, internal vs eksternal. Tidak sekuat framework, tapi tetap menjaga struktur kita tetap rapi dan MECE. Kalau lo pikir-pikir, LALAT (Lampau, Lawan, Target) tuh masuknya di prinsip berpikir dalam logika mentah, karena dia gak secara spesifik mendeskripsikan POV disiplin ilmu yang dipakai (marketing, finance, dll), hanya cara melihat data berdasarkan waktu, kompetitor, dan tujuan.

Tahu jenis-jenis framework gak otomatis langsung buat kita paham batasan dari masing-masing jenisnya. Coba kita langsung pelajarin pakai contoh biar langsung paham. Gua bakal bedah masing-masing framework secara mendalam


Industry Framework

Memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil kedengarannya sederhana. Selama pertanyaannya masih konkret, otak kita bisa langsung nebak. Ketika ada yang nanya kenapa penjualan turun, kita bisa secara reflek akan membaginya ke dalam wilayah, produk, atau tipe pelanggan. Pakai logika dasar aja biasanya sudah mendekati benar.

Masalahnya muncul ketika pertanyaannya gak lagi sederhana:

Seberapa sukses perusahaan ini lima tahun ke depan?

Di titik ini, logika aja gak cukup. Kita gak tahu harus mulai dari mana. Tidak ada POV yang langsung terlihat jelas. Kalau dipaksa, kita hanya akan menebak-nebak, dan sering kali berputar di tempat. Di sinilah salah satu fungsi industrial frameworks.

Industry Framework — Cara Industri Melihat Masalah

Menariknya, framework tidak pernah netral. Dua orang bisa melihat masalah yang sama, tapi menghasilkan struktur yang berbeda hanya karena mereka menggunakan framework yang berbeda.

Framework, pada akhirnya, adalah cerminan dari cara kita memandang masalah. Kalau framework adalah cara kita melihat dunia, berarti ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab: Framework mana yang harus kita pakai? Di sinilah konsep industry framework mulai masuk.

Coba kita balik lagi ke contoh pertanyaan di atas soal seberapa sukses sebuah perusahaan lima tahun ke depan. Seorang analis saham akan mulai dari proyeksi pasar, lalu menyesuaikannya dengan berita dan informasi terbaru. Di sisi lain, seorang investor private equity akan langsung memecahnya ke dalam pertumbuhan profit dan perubahan valuasi. Mereka menggunakan pendekatan yang berbeda. Mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Ada yang percaya bahwa harga pasar sudah mencerminkan realitas. Ada juga yang percaya bahwa nilai bisa diciptakan melalui tindakan manajemen.

Setiap industri, sadar atau tidak, punya cara sendiri untuk melihat masalah. Industry Framework adalah jenis framework yang dipakai sebuah industri atau perusahaan untuk menganalisis suatu masalah spesifik. Cara ini bukan muncul dari teori doang, tapi dibangun dari pengalaman panjang tentang apa yang benar-benar penting di lapangan.

Coba kita bedah cara kerjanya pakai contoh kasus.

你爱我 我爱你, 蜜雪冰城甜蜜蜜

Kalau kita tarik ke konteks yang lebih dekat, ambil contoh Mixue di Indonesia. Bayangin lo ada di posisi mereka, dan harus jawab pertanyaan:

Apakah kita harus buka franchise di daerah ini?

Kalau pakai logika umum, kita mungkin akan mulai dari:

  • Potensi revenue
  • Biaya operasional

Secara teori ini benar. Tapi secara praktik, ini terlalu umum. Masalah sebenarnya bukan sekadar “untung atau rugi”, tapi: Apa yang benar-benar menentukan keberhasilan outlet Mixue di lokasi tersebut?

Daripada langsung lompat ke revenue vs cost, kita bisa membaginya berdasarkan value drivers di bisnis F&B franchise seperti Mixue:

1. Performa outlet yang sudah ada (existing stores).

Apakah outlet Mixue di area sekitar:

  • Ramai atau sepi?
  • Sustain atau cuma hype awal?
  • Punya repeat customer atau tidak?

Kalau outlet yang sudah ada di sekitar lokasi baru aja gak kuat, buka yang baru hampir pasti bukan solusi.

2. Ekspansi outlet baru

Apakah lokasi ini:

  • Punya traffic yang cukup (dekat sekolah, kampus, stasiun)?
  • Belum terlalu jenuh dengan kompetitor (atau bahkan sesama Mixue)?
  • Masih ada ruang untuk tumbuh?

Di sini, pertanyaannya bukan cuma, “ada demand atau gak?” Tapi, apakah outlet baru ini akan nambah value, atau malah kanibalisasi outlet yang sudah ada?

3. Peluang di luar model outlet biasa

Misalnya:

  • Penjualan lewat delivery platform
  • Kolaborasi dengan tenant lain
  • Atau format outlet yang lebih kecil / mobile

Kalau kita gak buka cabang fisik pun, apakah masih ada cara lain untuk capture demand di area itu?

Dengan contoh Industry Framework di atas, kita gak cuma membagi masalah, tapi langsung masuk ke cara bisnis ini benar-benar bekerja di lapangan.

Bandingin dengan pendekatan awal yang lebih umum:

  • Potensi revenue
  • Potensi cost

Sementara industry framework langsung nanya:

  • Apakah outlet yang ada sehat?
  • Apakah ekspansi masuk akal?
  • Apakah ada cara lain untuk menangkap value?

Tapi tetap, ini bukan berarti framework ini selalu benar. Kalau kita terlalu fokus ke pola “retail outlet”, kita bisa kelewat hal lain. Misalnya: tren minuman yang mulai berubah, perubahan preferensi konsumen, atau ancaman dari brand baru yang lebih viral.

Ketika kita memilih melihat sesuatu dengan satu sudut pandang, artinya kita mengorbankan potensi melihatnya dari sudut pandang yang lain. Gak perlu dicegah, hal ini gak bisa dihindari, emang itu cost yang harus dibayar. Lo cukup perlu paham risiko dari keputusan yang lo ambil.

Kalau lo paham industrinya, mulai aja langsung dengan industry framework yang proven. Kalau lo gak familiar, lo bisa coba cara terbaik nomor dua, functional frameworks.


Functional Framework

Industry frameworks emang kuat, tapi masalahnya adalah kita gak paham semua industri. Dalam konteks untuk menyelesaikan suatu lomba, justru functional frameworks dan raw logic yang bakal lebih sering lo andalkan.

Kalau industry framework datang dari pengalaman di lapangan, functional framework datang dari ilmu dasar bisnis, seperti: marketing, finance, operations, dan strategi. Framework ini bukan spesifik ke industri tertentu, tapi cukup umum untuk dipakai hampir di mana saja.

P = R – C

Bisa gak kita tetap mulai memecah masalahnya menjadi lebih sederhana tanpa terlalu paham soal industrinya? Bisa banget. Kalau kita gak ngerti bisnis F&B atau franchise kayak Mixue, kita tetap bisa mulai dari sesuatu yang lebih fundamental:

Profit = Revenue - Cost

Dari sini, kita bisa mulai membedah. Profitability framework membagi faktor-faktor yang memengaruhi keuntungan, yaitu pendapatan dan pengeluaran. Framework ini termasuk framework paling umum dan sudah terbukti MECE. Apa yang jadi sumber pengeluaran gak mungkin bisa dikategorikan ke dalam sumber pendapatan.

Cara gunain frameworknya gimana? Apakah kita masukkin semua angka yang dibutuhkan kaya gunain formula matematika? Tentu tidak. Inget, framework itu cuma cetakan. Profitability framework bantu kita memecah masalahnya, dan buat kita jadi lebih mudah explore sumber masalahnya.

Revenue bisa dipecah jadi:

  • Jumlah customer
  • Frekuensi pembelian
  • Nilai per transaksi

Sementara cost bisa dipecah jadi:

  • Fixed cost (sewa, gaji tetap)
  • Variable cost (bahan baku, packaging, dll)

Coba explore masalah apa yang ada di masing-masing faktor yang udah kita pecah tadi. Kalau bingung, kita bisa manfaatan prinsip berpikir pakai LALAT. Misalnya jumlah customer, setahun terakhir trennya naik atau turun? Industri lain gimana? Ini masalah perusahaan kita doang aja, industri kita, atau semua market terpengaruhi?

Sekarang, dibanding cuma bilang: “Kita harus naikin profit.” Kita jadi punya arah:

  • Apakah masalahnya di jumlah customer?
  • Atau mereka jarang balik?
  • Atau mereka beli tapi kecil?

Di titik ini, functional framework mulai nunjukin kekuatannya, yaitu ngasih pegangan awal. Walaupun lo gak ngerti industrinya, lo tetap bisa mulai berpikir dengan struktur yang jelas. Jadi gak buta-buta banget.

Menutup Mata

Functional framework tetap gak sempurna. Sama seperti semua framework, kekuatannya selalu ada di tangan dan mata penggunanya. Ambil contoh profitability framework tadi: meski membaginya udah sederhana dari revenue dan cost, skill lo bakal tetep diuji dari pemilihan data. Semua tergantung lo mau buka mata dan nutup mata terhadap apa?

Bahkan dari mau drill down mulai dari bagian revenue atau cost duluan juga sebuah pilihan. Seringnya ini malah jadi hal yang paling krusial buat nentuin akurasi dan kecepetan lo analisis.

Memilih Pisau Bedah

Jadi kita pilih jenis pisau bedah yang mana? Framework itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Dia selalu jadi bagian dari struktur yang lebih besar. Lo gak bakal cuma pakai satu framework, tapi ngombinasikan beberapa framework sekaligus.

Dan ini juga jadi alasan kenapa banyak orang stuck. Kalau framework yang lo punya di mental library lo cuma dikit, pasti lo bakal bingung untuk bedah sebuah masalah. Terlalu nyaman dengan salah satu cara berpikir juga bisa bahaya, karena ini sama-sama buat lo buta terhadap solusi lain.

Functional framework ngajarin lo satu hal penting kalau framework bukan tentang punya jawaban. Tapi tentang punya cara untuk mulai berpikir, bahkan ketika lo gak tahu harus mulai dari mana.

Mental Library

Untuk ngebantu lo punya lebih banyak pisau bedah, gua coba share beberapa framework yang bisa lo pelajarin supaya lo lebih jago bedah masalah. Kumpulan framework ini gua ambil dari buku, “Cracked It! How to Solve Big Problems and Sell Solutions Like Top Strategy Consultants”.

Framwork adalah peta yang menunjukkan jalan pintas untuk sampai ke tujuan kita. Dengan memiliki banyak peta dan tahu banyak jalan pintas, proses lo sampai ke tujuan bakal jadi lebih cepat dan mudah. Itulah kenapa lo memperluas mental library lo. Sehingga lo bakal punya banyak pisau bedah saat dihadapi sebuah masalah.

Sebelum baca tabelnya, pahami 3 jenis yang bakal dibahas:

  1. Formula frameworks, yaitu framework yang menghubungkan sebuah hasil dengan komponen-komponennya. Framework jenis ini dipakai ketika masalahnya bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang perlu dihitung, jadi lo butuh angka sebagai output.
  2. Typology frameworks, yaitu framework yang berisi daftar kategori. Framework ini berguna ketika lo butuh membagi sesuatu secara MECE: baik itu opsi, alasan, faktor, atau apapun. Tipe ini memastikan gak ada yang kelewat.
  3. Checklist frameworks, mirip dengan typology, tapi bedanya semua elemen di dalamnya harus ada secara bersamaan supaya suatu kondisi bisa dianggap terpenuhi.

Marketing

Pertanyaan yang Ingin DijawabFrameworkKomponenJenis Framework
Gimana cara membagi pasar jadi kelompok yang homogen?Market SegmentationSegmen: misalnya demografi, wilayah geografis, sikap terhadap kategori, perilaku terhadap produk, dllTipologi
Gimana cara memperbesar market? (misalnya rokok, HP, dll)Market SizePenetrasi (% pengguna dalam populasi) × konsumsi per penggunaFormula
Revenue itu datang dari mana?Revenue Breakdown (Basic)Market size × market shareFormula
Gimana cara meningkatkan revenue?Revenue Breakdown (Basic Approach)Jumlah transaksi × nilai per transaksi, atau jumlah pembeli × frekuensi pembelian × jumlah item per transaksi × harga rata-rata per itemFormula
Gimana cara meningkatkan market share?Market Share Breakdown (Advanced)Market share = penetration share (%) × share of wallet (%) × heavy usage index (I)Formula
Gimana cara menjangkau konsumen?Market ChannelsChannel ke marketTipologi
Apa aja “tuas” yang bisa kita ubah dalam marketing?Marketing MixProduct, price, promotion, placementChecklist
Apakah worth untuk invest di akuisisi customer baru (bisnis subscription/recurring)?Customer Lifetime Value(revenue tahunan × rata-rata lama customer bertahan) − biaya akuisisi customerFormula

Strategy

Pertanyaan yang Ingin DijawabFrameworkKomponenJenis Framework
Gimana dapetin gambaran cepat tentang sebuah bisnis?3CsCompany, customers, competitorsChecklist
Apakah model bisnis ini solid dan viable?Business Model CanvasKey partners, key activities, key resources, value propositions, customer relationships, channels, customer segments, cost structure, revenue streamsChecklist
Tren eksternal apa yang bisa memengaruhi bisnis ini?PESTELPolitical, economic, social, technological, environmental, legalTipologi
Apakah industri ini menarik?Porter’s Five ForcesInternal rivalry, barriers to entry, substitutes, supplier power, buyer powerChecklist
Sumber keunggulan apa yang bisa kita kejar?Generic Business Unit StrategiesCost strategy, differentiation strategy, niche strategyTipologi
Keunggulan kita berasal dari resource apa?Strategic ResourcesAssets / skills / relationshipsTipologi
Apakah keunggulan kita defensible?VRIO ResourcesValuable, rare, hard to imitate, exploited by organizationChecklist
Gimana cara kita bertumbuh?Modes and Directions for GrowthModes: organic growth, alliances, acquisitions. Directions: same business, international expansion, vertical integration, diversificationTipologi
Apa manfaat dari growth?Scale and Scope BenefitsScale, scope, learningTipologi

Organization and Change

Pertanyaan yang Ingin DijawabFrameworkKomponenJenis Framework
Apakah komponen dalam organisasi ini selaras?7S FrameworkStrategy, structure, skills, staff, systems, style, shared valuesChecklist
Gimana cara menyusun struktur organisasi?Types of Organization StructuresFunctional, divisional, matrix, horizontal / networked / flatTipologi
Gimana cara membuat perubahan terjadi di organisasi?Kotter’s 8-Step Change ModelUrgency, coalition, vision, army, barriers, quick wins, acceleration, institutionalizationChecklist
Gimana cara mengubah perilaku individu dalam organisasi?McKinsey Influence ModelRole modeling, understanding & conviction, talent & skill development, formal mechanismsChecklist

Operation

Pertanyaan yang Ingin DijawabFrameworkKomponenJenis Framework
Gimana cara mengoptimalkan kapasitas produksi dengan trade-off antara utilisasi dan waktu tunggu (atau inventory)?Operations Management Triangle (Queueing Theory)Waiting time / inventory level, capacity utilization, variability of process & demandFormula
Berapa frekuensi pembelian optimal untuk supply yang berulang? (contoh: “seberapa sering isi bensin?”)Economic Order Quantity (EOQ)Purchase frequency, transaction cost, financial cost of inventoryFormula
Gimana cara menghadapi demand yang tidak pasti secara profitable? (contoh: “berapa banyak koran yang harus dijual tiap hari?”)Newsvendor ModelProduction capacity, future demand, idle capacity costFormula

Finance

Pertanyaan yang Ingin DijawabFrameworkKomponenJenis Framework
Apakah bisnis ini menghasilkan profit?P&L (Profit and Loss Statement)(Net) profit = revenue − COGS − unallocated expenses (− taxes)Formula
Biaya mana yang tergantung volume dan mana yang tidak?Cost BreakdownFixed cost vs. variable costTipologi
Di titik berapa bisnis mulai nutup biaya dan profit?BreakevenBreakeven units = fixed cost / contribution margin per unitFormula
Return apa yang dihasilkan dari investasi?Return on Investment (ROI) RatiosReturn / total investment (misalnya ROCE, ROIC, ROI, dll)Formula
Berapa minimum return agar investasi ini layak?WACC (Weighted Average Cost of Capital)(Proporsi equity × cost of equity) + (proporsi debt × cost of debt)Formula
Berapa nilai proyek / perusahaan dalam nilai sekarang?NPV (Net Present Value)Present value dari future cash flows + terminal valueFormula
Berapa valuasi perusahaan dibanding perusahaan lain?Valuation (Multiples)EV = EBITDA × multiple (atau EBIT, net income, dll)Formula
Apa saja cara meningkatkan nilai perusahaan?Valuation HexagonPerception gap, operating improvements, new owner, growth opportunities, financial engineeringChecklist

Logika Mentah

Di titik ini, kita sudah punya banyak pisau bedah. Framework dari berbagai domain, cara membagi yang MECE, sampai pola berpikir yang berulang. Tapi ada satu kondisi yang hampir pasti akan lo temui. Kondisi di mana lo lagi lihat sebuah masalah dan gak ada satu pun framework yang langsung kepikiran.

Atau lebih sering lagi, lo tahu beberapa framework, tapi semuanya terasa kurang klik aja gitu. Dipaksakan bisa, tapi rasanya kayak maksa realita masuk ke kotak yang salah. Di sini waktunya kepala lo bersinar ✨.

Handmade With Love

Logika mentah itu bukan berarti berpikir tanpa struktur. Justru sebaliknya. Ini adalah kemampuan untuk membangun struktur dari nol, tanpa bergantung pada template yang sudah ada. Kalau framework itu kaya peta yang siap pakai, logika mentah itu seperti lo berdiri di tempat asing tanpa peta, jadi lo gambar aja sendiri setelah lakuin helicopter view.

Awalnya pasti gak rapi. Bahkan sering kali salah arah. Tapi dari situ, pelan-pelan struktur mulai kebentuk. Lo bisa mulai dari pertanyaan kecil seperti:

  • Apa aja kemungkinan yang ada?
  • Gimana cara paling basic untuk membaginya?

Dan salah satu cara lihatnya ya pakai framework LALAT yang udah gua ajarin. Selama ini kita tuh baru belajar di level paling bawah aja, logika mentahnya aja.

Pembagian seperti ini kelihatan kasar. Tapi justru di situlah kekuatannya. Dia ngasih lo pijakan pertama. Lo bisa mulai dengan sudut pandang apa pun, ASALKAN MECE. Contoh:

  • Lama vs baru
  • Internal vs eksternal
  • Produk A vs produk lainnya

Dari situ, kita bisa mulai perluas lagi. Setiap bagian bisa dipecah lagi, dipertajam, atau disesuaikan dengan konteks masalahnya. Seiring waktu, struktur yang awalnya kasar bisa berubah jadi lebih rapi, bahkan mendekati framework yang lebih formal. Tapi titik awalnya tetap sama, yaitu biar mulai aja dulu.

Kemampuan problem solving gak cuma tentang tahu banyak framework, tapi tentang tetap bisa berpikir dengan rapi, bahkan tanpa framework.


Pedagang Pisau

Masalah di dunia nyata hampir tidak pernah datang dengan label atau petunjuk. Kita gak akan dikasih tahu apakah ini masalah marketing, finance, atau strategy. Sebuah masalah bisa sekaligus menjadi semuanya. Dan di sinilah kemampuan seorang problem solver benar-benar diuji. Bukan pada seberapa banyak framework yang dia hafal, tapi pada kemampuannya untuk memilih, menggabungkan, dan menyesuaikan framework sesuai dengan konteks yang dihadapi. Diuji berdasarkan sudut pandang mana yang dia ambil, data mana yang diabaikan dan digunakan.

Perbanyak jenis pisau bedah lo.

Pertajam skill bedah lo.

Kalau kita tarik ke atas dari tiga pendekatan tadi: industry framework, functional framework, dan logika mentah, sebenarnya perbedaannya bukan cuma di cara pakainya, tapi di dua hal yang lebih mendasar:

  • seberapa luas mereka bisa dipakai, dan
  • seberapa dalam insight yang bisa mereka hasilkan.

Industry framework itu paling sempit penggunaannya.

Dia sangat spesifik ke satu konteks. Cara berpikir di retail belum tentu bisa dipakai di SaaS. Cara melihat bisnis F&B belum tentu relevan di industri otomotif.

Tapi justru karena sempit, dia sangat dalam.

Begitu lo pakai di konteks yang tepat, insight yang keluar biasanya langsung tajam. Lo gak lagi bicara revenue vs cost, tapi langsung ke hal-hal yang benar-benar menggerakkan bisnis itu.

Di sisi lain, functional framework jauh lebih luas.

Framework seperti revenue breakdown, marketing mix, atau cost structure bisa dipakai di hampir semua industri. Dia jadi semacam bahasa universal untuk mulai berpikir ketika kita belum punya konteks yang kuat.

Tapi ada trade-off.

Karena sifatnya umum, insight yang dihasilkan sering kali lebih dangkal. Dia membantu kita membangun struktur, tapi belum tentu langsung menunjuk ke akar masalah. Kita masih perlu mengaitkannya dengan konteks nyata supaya jadi tajam.

Lalu yang paling luas adalah logika mentah.

Dia bisa dipakai di situasi apa pun, bahkan ketika tidak ada framework yang tersedia sama sekali. Kita bisa mulai dari pembagian paling sederhana, lalu mengembangkannya dari situ.

Tapi di saat yang sama, ini juga yang paling terbatas dari segi insight.

Karena semuanya dibangun dari nol, kualitas analisisnya sangat bergantung pada seberapa jauh kita mengembangkan struktur itu. Kalau berhenti terlalu cepat, hasilnya akan terasa dangkal dan kurang terarah.


Kesimpulan: Bawa Banyak Pisau Tajam ke Ruang Operasi

Balik lagi ke pertanyaan di awal: kenapa orang pinter sering gagal buat bikin orang lain paham? Jawabannya seringnya bukan karena materinya yang terlalu berat, tapi karena mereka gagal membedah kompleksitas itu jadi potongan-potongan kecil yang bisa dikunyah. Kalau lo cuma punya logika tanpa struktur, penjelasan lo bakal muter-muter. Pecah dengan benar, dan jelasin ke lawan bicara lo proses lo membedahnya tuh gimana, kenapa bisa sampai ke kesimpulan lo. Struktur yang kita bangun haruslah memenuhi prinsip MECE agar gak kacau dalam berpikir.

Dalam proses membedah ini, kita bisa menggunakan framework René Descartes sebagai panduan rasional untuk mencari kepastian. Aturannya sederhana: jangan langsung percaya pada informasi awal, pecah masalah menjadi bagian kecil, mulai dari yang paling penting (Penting > Sederhana > Kompleks), dan selalu lakukan cek ulang secara rutin. Dengan disiplin mengikuti langkah-langkah ini, kita bisa mengubah kekacauan informasi menjadi struktur yang utuh dan mudah dikonsumsi oleh lawan bicara.

Untuk mempertajam analisis, kita perlu memperkaya mental library kita dengan berbagai jenis framework, mulai dari industry framework yang sangat dalam, functional framework yang universal, hingga logika mentah untuk situasi tanpa peta. Tujuan akhirnya adalah melakukan problem isolation untuk menemukan leverage point yang secara matematis menyebabkan mayoritas masalah. Semakin banyak pilihan pisau bedah yang lo miliki dan semakin handal lo menggunakannya, maka proses bedah masalah bakal jadi lebih mudah dan akurat.

Pada akhirnya, kemampuan problem solving bukan cuma tentang seberapa banyak framework yang lo hafal, tapi tentang clarity atau kejelasan dalam berpikir. Jangan sampai lo terkena hammer problem, di mana karena cuma punya satu alat, lo melihat semua masalah sebagai paku. Gunakan framework sebagai jembatan praktis untuk sampai ke jawaban, tetap fokus pada logika yang valid, dan selalu coba buat penjelasan lo mudah dipahami oleh orang lain.


Post Test


Selamat, lo udah menyelesaikan materi ini! Semoga ilmunya berguna buat perjalanan lomba dan hidup lo, ya. Bagian di bawah ini hanya tambahan, tidak memberi value tambahan terhadap materi yang dibahas, dan boleh diskip.


Epilog: What Is Dead May Never Die

What is dead may never die, but rises again, stronger and harder. — George R. R. Martin

Salah satu murid yang saat itu gua ajar, sebut saja Arunika, bilang kalau lomba yang sedang dia jalani adalah lomba terakhir yang akan dia coba. Dia cerita kalau dia capek karena selama hampir setahun mengikuti selusin lomba, dia belum pernah menang juga. Rasanya, hasil yang dia dapatkan selalu mengkhianati usahanya yang gua bahkan harus akui gak bisa dibilang kurang. Menang lomba selalu jadi cita-citanya, sebuah puncak gunung yang dia impi-impikan untuk taklukkan. Lepas dari apa yang menjadi penyebabnya, hati dan otaknya setuju dengan satu hal: semakin dia coba buat bertahan, jalannya makin curam dan puncaknya justru rasanya menjauh.

Setiap kali dia dapat berita kalau kelompoknya bahkan gak masuk final, rasanya ia ingin berhenti saat itu juga. Setiap lomba yang dijalani rasanya menyebalkan hingga puncaknya membuatnya mati rasa. Untuk memperparahnya, setelah semua keringat yang sudah dia keluarkan, gak ada jaminan apa pun kalau bahkan jika dia menang, dia bakal ngerasa bahagia. Kalau harga yang harus dibayar untuk bertahan mengejar mimpi ternyata lebih besar daripada taruhan pada luapan dopamin yang akan didapatkan saat berhasil, bukankah pilihan yang lebih bijak adalah menyerah? Membiarkan mimpi itu hilang saat terbangun dari tidur.

Tentu gua coba semangatin dia dan membantu kasih apa pun yang dia butuhkan untuk tetap bertahan di pendakian terakhir ini. Dia memutuskan untuk berlari sekuat tenaga, gua pun coba memastikan selalu ada di sebelahnya, kalau-kalau dia kewalahan, kelelahan, dan berpikir untuk menyerah. Usaha yang dia kasih saat itu pun memang jelas jauh di atas level maksimal yang pernah dikasih selama ini. Tekadnya udah bulat. Kebutuhan tidur udah dia geser jadi kebutuhan sekunder. Semua ilmu yang dia dapat dari semua kekalahan dia yang sebelumnya, dituangin semua pada lomba kali ini. Arunika locked in dan eksekusinya bisa dibilang tanpa cacat. Menyelesaikan lomba sampai tuntas dan memastikan tidak ada hal yang akan dia sesali saat dia menekan tombol submit. Hasilnya…

Dia tetap kalah dan bilang, “kayanya ini bukan buat gua.”

Seandainya dia berhenti setelah percobaan lomba pertamanya, dia gak bakal berakhir dengan ngerasa dirinya hanyalah seorang pecundang. Seandainya ada cara untuk melihat masa depan untuk tahu kita bakal berhasil atau gak sebelum mencoba. Karena, dengan apa keberhasilan seorang pendaki dinilai, kalau bukan dari keberhasilan kakinya mencapai puncak? Buat Arunika, mungkin puncak gunung yang dia lihat itu hanya kawan dari es dan awan, yang nyatanya memang terlalu tinggi untuk ditaklukkan.

Tapi apakah kebanyakan dari kita adalah Arunika? Orang yang bebal mencoba sampai tuntas dan diluapi perasaan kalah. Atau jangan-jangan kebanyakan dari kita langsung balik badan saat melihat gunung yang ada di depan terlalu tinggi. Kenapa ada orang yang tetap ngotot mendaki gunung, meski tahu puncaknya tinggi dan pendakiannya akan sulit?

Kurang lebih setiap tahunnya ada 1.000 orang yang mencoba mendaki Gunung Everest. 750 orang di antaranya berhasil mencapai puncaknya, 240 orang memutuskan untuk berbalik arah, dan beberapa orang sisanya meninggal dalam prosesnya.

Lalu untuk apa orang-orang tersebut berjuang mati-matian sampai ke puncak? Padahal kalau dipikir-pikir, gak ada jaminan loh kalau mereka akan bahagia dan puas saat berhasil menaruh gunung tertinggi di bumi itu di bawah kaki mereka. Untuk sebagian orang, mati saat mengejar mimpi adalah kenikmatan paling sahih nomor tiga, setelah mati muda, namun belum mampu menggatikan kenikmatan nomor satu dari tidak perlu lahir dan menderita di hidup ini. Hehe.

Dari 1000 pendaki Everest tadi, tentu 750 orang yang berhasil yang akan dirayakan. Tapi apakah salah untuk menjadi 240 orang yang akhirnya menyerah di tengah jalan? Bukankah gak semua puncak mesti kita taklukkan? Apa yang salah dari menjadikan bukit-bukit yang sudah dilewati bukan sebagai tempat merasa tinggi, tapi tempat buat duduk aja gitu? Tempat untuk merenung sambil melihat betapa indahnya puncak-puncak yang ada di depan kita. Puncak yang memang tidak bisa dan tidak perlu kita sentuh.

Gua jadi inget pepatah yang bilang kalau naik gunung jangan sering-sering lihat ke atas, nikmatin aja perjalanannya. Mau dilihat berapa kali pun, puncak gunung akan selalu terlihat tinggi dan terasa jauh. Kadang, kita cuma perlu lihat ke bawah sambil melihat kaki kiri dan kanan kita terus berlomba siapa yang ada di paling depan. Nikmatin aja perjalanannya, entah akhirnya lelah dan beristirahat di mana. Karena kalau maksa jalan dan malah jatuh, seringnya itu bakal sakit, kadang bahkan mati.

“Puncak” orang jelas beda-beda. Mimpi bukanlah sesuatu yang bisa diukur dan disetujui bersama berapa tingginya. Panjang dan tinggi mimpi orang jelas mustahil untuk sama.

Tapi apakah lantas argumen-argumen di atas bisa dijadikan pembenaran bahwa lebih baik mengecilkan puncak-puncak yang kita ingin daki untuk memastikan keberhasilan, daripada harus berakhir pada kegagalan, rasa malu, dan kalah? Percaya bahwa gak semua mimpi mesti terwujud, mimpi buruk misalnya.

Jadi mimpi mana yang harus kita kejar di siang hari, dan mimpi mana yang harus kita biarkan dilahap bulan, dan hilang saat matahari tiba?

Seperti sifat mimpi yang datang saat kita sudah tertidur, yang dianggap banyak orang sebagai kematian kecil (maut shughra). Akhir dari sebuah mimpi pastilah kematian…

Bisa jadi mimpi itu dikejar sampai mati, seperti 10 orang yang coba mendaki Everest.

Bisa juga mimpi itu ditaklukkan sehingga mimpinya mati, seperti Pak Prabowo yang menjadi presiden setelah mencalonkan dirinya 4 kali.

Tapi ada kemungkinan terakhir yang paling buruk, yang lebih buruk daripada kegagalan setelah Arunika bangkit sebanyak ia jatuh… Yaitu mimpi yang dikubur sebelum mati. Nyatanya mimpi itu cuma pingsan, dan bangkit suatu hari nanti, menghantui kita sampai kita mati dalam bentuk penyesalan.

Dikejar, ditaklukkan, atau dihantui. Pilih hati-hati.

Jadi apa mimpi lo? Kenapa lo bela-belain baca banyak materi yang gua tulis? Ngapain lo pusing garuk-garuk kepala sambil ngerjain tugas dari gua? Atau bahkan, kenapa lo baca tulisan gua kali ini yang gua baru sadar, kok panjang banget… Kenapa lo tetap bertahan di Bahtera Evan?

Gua harap lo gak menghina diri lo sendiri dengan menjadikan “kemenangan” sebagai tujuan akhir lo. Kalau memang tujuan lo CUMA menang, banyak cara licik dan jalan pintas untuk sampai ke situ. Joki misalnya. Lo cukup ikut maju naik ke atas panggung, foto bareng, sambil saleman kiri dan kanan. Apakah lo merasa mencapai mimpi lo? Atau malah merasa dipecundangi? Gua ragu kebahagiaan bisa dateng dari styrofoam bertuliskan “Juara Satu.”

Maka jadilah Arunika. Bukan Arunika yang menjadikan kemenangan sebagai paramater kesuksesan dia. Bukan Arunika yang merasa dirinya sebuah kegagalan karena gak pernah menang.

Tapi Arunika yang berani berjuang sampai selesai.

Berjuang sampai suatu hari dia bisa bilang ke dirinya sendiri: “Gua udah kasih semua yang gua punya.”

Tanpa harus hidup dengan hantu bernama penyesalan itu, “Coba waktu itu gua usaha lebih keras…”

Gua harap lo terus bertahan dan gak menyerah, kita ada di bahtera ini bersama-sama. Gua tahu kadang anginnya kenceng banget sampai dorong kita ke empat penjuru mata angin. Gua paham kadang ombaknya ganas, berlari dengan cepat sampai ke dek kapal kita. Sambil berbisik menggoda kita untuk loncat dari kapal ini, dan hanyut dengannya.

Gua pun gak bisa jamin kalau lo bertahan mati-matian, lo bakal dapet apa yang lo cari di akhir perjalanan bahtera ini.

Tapi gua bisa jamin, kalau lo bertahan sampai akhir, lo bakal nginjek gunung itu. Gunung terakhir tempat bahtera kita akan berlabuh di ujung kiamat. Mungkin bukan gunung yang paling tinggi. Tentu bukan gunung yang paling indah. Tapi gunung yang cukup untuk lo bisa melanjuti hidup tanpa lihat ke belakang dan menyesal. Tempat di mana lo bisa bilang, “gua udah kasih semuanya.”

Gak semua mimpi harus tercapai. Tapi semua mimpi harus selesai.

End of post41 min read